Masalah pokok ekonomi pertama kali muncul alasannya ialah adanya kebutuhan insan yang tidak terbatas sementara di sisi lain, sumber daya terbatas. Contoh problem ekonomi sederhana ialah ketika kita berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan hidup selama satu bulan, sedangkan honor yang kita dapatkan hanya pas-pasan. Secara umum, problem pokok ekonomi terbagi menjadi problem pokok ekonomi klasik dan problem pokok ekonomi modern. Masalah pokok ekonomi klasik mencakup problem produksi, distribusi dan konsumsi. Sedangkan problem pokok ekonomi modern mencakup apa barang yang diproduksi (What), bagaimana cara memproduksinya (How), dan untuk siapa barang itu diproduksi (whom).
Berikut ini klarifikasi mengenai problem pokok ekonomi klasik dan modern tersebut.
Masalah Pokok Ekonomi Menurut Aliran Klasik
Menurut fatwa klasik, problem ekonomi yang sangat banyak dan bermacam-macam sanggup dikelompokkan menjadi tiga problem pokok.
Masalah produksi
Masalah Produksi merupakan problem pertama ekonomi dalam fatwa klasik. Masalah produksi mencakup bagaimana cara memproduksi barang dan jasa yang berkhasiat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kebutuhan insan yang tidak terbatas membuat produsen berpikir barang dan jasa apa yang harus diproduksi lebih dulu, mengingat sumber daya yang serba terbatas. Cara produksi yang mana yang akan dipakai? Dapatkah produsen memproduksi dengan efisien dan hemat? Sudahkah produsen memproduksi pada dikala yang tepat? Produksi apa yang dibutuhkan bila memasuki bulan puasa?
Masalah Distribusi
Masalah distribusi dalam ekonomi klasik ialah problem penyaluran barang dan jasa yang telah diroduksi oleh produsen. Dalam distribusi harus diperhatikan apakah barang dan jasa yang sudah dihasilkan sanggup hingga kepada konsumen dengan cara yang tepat? Jalur distribusi umumnya akan dibentuk sependek mungkin sehingga harga barang dan jasa hasil produksi tidak terlalu mahal ketika hingga di tangan konsumen. Produsen perlu memikirkan bagaimana caranya mendistribusikan barang dengan baik. Misalnya saja, kalau ia mempunyai ikan sebanyak satu ton, apakah ia akan mendistribusikan ikan tersebut dengan kendaraan beroda empat dan perjalanan bahari atau memakai pesawat terbang.
Masalah Konsumsi
Masalah konsumsi dalam ekonomi klasik berkaitan dengan pertanyaan “apakah barang dan jasa yang sudah dihasilkan benar-benar sanggup dikonsumsi oleh masyarakat yang memerlukan?” sanggup saja barang dan jasa yang telah diproduksi oleh produsen tidak sanggup dikonsumsi alasannya ialah harganya terlalu mahal dan tidak terjangkau masyarakat, atau barang dan jasa tersebut tidak hingga ke masyarakat yang membutuhkan. Apa yang sanggup dikonsumsi bila masyarakat penggemar teh tidak menerima pasokan teh tetapi justru menerima pasokan kopi? Apa yang sanggup dikonsumsi bila harga teh tiba-tiba naik sepuluh kali lipat?
Masalah Pokok Ekonomi Menurut Aliran Modern
Masalah ekonomi yang dihadapi insan sangatlah banyak dan beragam. Masalah yang sangat banyak dan bermacam-macam tersebut berdasarkan fatwa modern sanggup dikelompokkan menjadi tiga problem pokok. Sehingga tiga problem pokok ekonomi modern yaitu :
(1) Apa yang akan diproduksi (what)?,
(2) Bagaimana cara memproduksi (how)?,
(3) Untuk siapa barang dan jasa diproduksi (for whom)?
Tiga problem pokok ekonomi modern tersebut sanggup diringkas menjadi satu problem inti yang disebut inti problem ekonomi, yakni bagaimana cara memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas dengan memakai sumber daya yang serba terbatas. Berikut ini klarifikasi mengenai problem pokok ekonomi modern.
Apa yang Akan Diproduksi ( What )?
Dalam ekonomi modern, produsen perlu memilikirkan dan menentukan barang apa yang akan diproduksi. Oleh alasannya ialah itu, produsen perlu memikirkan apa (What) barang yang akan diproduksi dengan biaya minim dan sanggup menghasilkan keuntungan besar serta bermanfaat bagi konsumen.
Penentuan apa yang akan diproduksi merupakan problem pokok dan penting dalam ekonomi modern. Karena, selain jumlah sumber daya yang terbatas, kesalahan penentuan apa yang akan diproduksi sanggup menjadikan kerugian, bahkan kebangkrutan bagi produsen, serta sanggup pula merugikan masyarakat alasannya ialah adanya barang dan jasa yang menumpuk tidak terpakai. Ini merupakan pemborosan sumber daya. Untuk menentukan dengan sempurna apa yang akan diproduksi, suatu negara terutama para produsennya harus mempertimbangkan dua hal, yaitu barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat dan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi barang dan jasa tersebut.
Untuk mengetahui barang dan jasa apa yang bersama-sama dibutuhkan masyarakat, seorang produsen perlu memerhatikan paling sedikit tujuh faktor yang sanggup menimbulkan kebutuhan insan akan barang dan jasa.
- Keinginan Memenuhi Kebutuhan Pokok demi Kelangsungan Hidup Kebutuhan pokok insan mencakup sandang, pangan, dan papan.
- Sifat Manusia yang Selalu Kurang puas Sudah disinggung sebelumnya bahwa sifat selalu kurang puas akan memunculkan kebutuhan baru.
- Rasa Ingin Tahu Manusia Rasa ingin tahu mendorong insan membuat alat-alat untuk memuaskan rasa ingin tahunya.
- Keinginan Mempermudah Pekerjaan Manusia selalu ingin mempermudah pekerjaannya.
- Sifat Suka Meniru (Demonstration Effect) Akibat melihat tingkah laris dan gaya hidup orang lain, baik dari TV, majalah, atau di kehidupan nyata, insan cenderung untuk menirunya.
- Keinginan Manusia Mendekatkan Diri pada Tuhan Keinginan insan untuk selalu mendekatkan diri pada Sang Pencipta mendorong timbulnya kebutuhan akan aneka macam alat dan perlengkapan beribadah.
- Keinginan Diakui dan Dihargai Rasa ingin diakui dan dihargai membuat insan terutama yang berpendapatan tinggi membutuhkan sesuatu yang berbeda dengan yang lain untuk meningkatkan martabatnya (prestise).
Setelah mengetahui tujuh faktor yang sanggup menimbulkan kebutuhan insan akan barang dan jasa, maka produsen harus mempertimbangkan tingkat ketersediaan sumber daya yang ada. Karena sumber daya bersifat langka dan pemakaiannya bersifat alternatif. Apapun pilihan yang ditetapkan produsen hendaknya pilihan tersebut memperlihatkan manfaat terbesar bagi masyarakat. Jangan hingga di suatu masyarakat barang kebutuhan sekuler melimpah, tetapi barang kebutuhan pokok (primer) sulit dijumpai. Oleh alasannya ialah itu, bertukar warta dan pembagian kerja antarprodusen penting untuk dilakukan.
Bagaimana Cara Memproduksi ( How )?
Apabila produsen sudah menentukan apa yang akan diproduksi, langkah berikutnya ialah memikirkan bagaimana cara memproduksinya. Cara memproduksi sangat berkaitan dengan cara mengombinasikan sumber daya atau faktor produksi yang dibutuhkan untuk memproduksi barang dan jasa. Untuk menentukan cara produksi mana yang sesuai, produsen perlu mempertimbangkan aspek efisiensi atau penghematan.
Pilihlah cara produksi yang paling sedikit membutuhkan biaya biar barang dan jasa yang dihasilkan sanggup dijual dengan harga relatif murah. Penghematan sanggup dilakukan, contohnya dengan mencari materi baku dengan harga yang lebih murah tetapi tetap baik mutunya. Selain itu, pertimbangkan pula, perlukah memakai mesin-mesin modern? Apabila usul sedikit, penggunaan mesin modern tentu belum diperlukan. Lalu, perlukah spesialisasi (pembagian kerja) dalam berproduksi? Dan apakah tidak sebaiknya memakai cara produksi yang padat karya (labour intensive) untuk mengurangi jumlah pengangguran? Apakah cara produksi yang digunakan sanggup menimbulkan pencemaran lingkungan? Sudahkah melaksanakan analisis wacana imbas produksi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar? Pertanyaan-pertanyaan menyerupai inilah yang harus dijawab produsen untuk menentukan cara berproduksi.
Untuk Siapa Barang dan Jasa Diproduksi ( For Whom )?
Produksi barang dan jasa dilakukan bukan hanya untuk konsumen yang akan mengonsumsi barang dan jasa. Masih banyak pihak lain yang diuntungkan dari acara produksi. Dengan adanya produksi, pekerja akan mendapatkan upah, pemilik materi baku akan mendapatkan uang penjualan materi baku, pemilik gedung dan tanah akan mendapatkan uang sewa, pemilik modal akan mendapatkan bunga modal, dan pengusaha akan mendapatkan keuntungan dari penjualan produknya. Jadi, yang dimaksud dengan “untuk siapa barang dan jasa diproduksi” sangat berkaitan dengan siapa saja yang akan menikmati pendapatan dari acara produksi. Serta bagaimana cara mendistribusikan pendapatan tersebut secara adil sehingga tidak terjadi kesenjangan dan kecemburuan antarpemilik faktor produksi. Di Indonesia sendiri sudah ada hukum yang mengatur cara mengupah tenaga kerja hingga sanggup dianggap adil, yakni dengan memutuskan UMR (upah minimum regional) di setiap daerah. UMR di kota-kota besar akan lebih tinggi dari UMR di kota kecil. Dengan demikian, UMR di Jakarta akan lebih tinggi dari UMR di Klaten.
Demikianlah klarifikasi mengenai problem pokok ekonomi klasik dan problem pokok ekonomi modern. Semoga bermanfaat untuk kita semua.