Bagi Anda yang sering mengikuti perkembangan ekonomi dan perkembangan pasar saham di Bursa Efek Indonesia niscaya sering mendengar istilah indeks harga saham campuran atau IHSG. IHSG ialah salah satu dari banyak sekali macam angka indeks. Berikut ini ialah klarifikasi mengenai pengertian angka indeks, macam-macam angka indeks dan langkah-langkah penyusunan angka indeks.
Pengertian Angka Indeks
Angka indeks ialah angka perbandingan yang dinyatakan dalam persentase untuk mengukur perubahan relatif satu variabel atau lebih pada waktu tertentu atau kawasan tertentu, dibandingkan dengan variabel yang sama pada waktu atau kawasan yang lainnya. Singkatnya, angka indeks ialah angka perbandingan untuk mengukur perubahan variabel yang dinyatakan dalam persentase. Angka indeks digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan variabel yang berkaitan dengan banyak aspek kehidupan manusia. Oleh alasannya ialah itu, angka indeks digunakan hampir di seluruh cabang ilmu pengetahuan. Kedokteran, ekonomi, fisika, geografi, dan psikologi ialah pola cabang ilmu pengetahuan yang memakai jasa angka indeks.
Macam-Macam Angka Indeks
Ada tiga macam angka indeks, yaitu:
- Angka indeks harga, yaitu angka perbandingan untuk mengukur perubahan harga dari suatu periode ke periode lainnya.
- Angka indeks jumlah (kuantitas), yaitu angka perbandingan untuk mengukur perubahan jumlah dari suatu periode ke periode lainnya.
- Angka indeks nilai (value), yaitu angka perbandingan untuk mengukur perubahan nilai dari suatu periode ke periode lainnya. Nilai dihitung dengan cara mengalikan harga dengan jumlah (kuantitas).
Langkah-Langkah Penyusunan Angka Indeks
Untuk menyusun angka indeks diharapkan langkah-langkah berikut:
- Menentukan Tujuan Penentuan tujuan harus jelas, alasannya ialah bekerjasama dengan jenis data yang harus dikumpulkan. Misalnya, pemerintah ingin menghitung Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) maka pemerintah harus mengumpulkan data harga-harga komoditas pada tingkat grosir. Jika pemerintah ingin menghitung Indeks Harga Konsumen (IHK) maka pemerintah harus mengumpulkan data harga-harga komoditas pada tingkat eceran.
- Menentukan Cara Pengambilan Data Pengambilan data dapat dilakukan dengan cara sampel (contoh) atau populasi (keseluruhan). Apabila ingin menghemat biaya dan waktu maka sebaiknya cara sampel yang digunakan.
- Memilih Sumber Data Sumber data yang digunakan sebaiknya sama, alasannya ialah tiap sumber data mempunyai teknis dan cara pengambilan data yang berbeda sehingga menghasilkan data yang berbeda pula. Sebagai contoh, jumlah pengangguran berdasarkan Departemen Tenaga Kerja akan berbeda dengan data jumlah pengangguran berdasarkan BPS (Biro Pusat Statistik). Oleh alasannya ialah itu, bila ingin menghitung angka indeks jumlah pengangguran, sebaiknya pilih salah satu sumber data biar datanya konsisten.
- Memilih Tahun Dasar ( Base Year ) Tahun dasar ialah tahun yang digunakan sebagai dasar perhitungan. Angka indeks pada tahun dasar selalu diberi nilai 100. Jadi, bila pada suatu tahun angka indeksnya melebihi 100 (melebihi tahun dasar) artinya telah terjadi kenaikan. Dan bila angka indeksnya di bawah 100, berarti telah terjadi penurunan. Misalnya, kalau tahun 2000 digunakan sebagai tahun dasar maka angka indeks tahun 2000 niscaya bernilai 100. Jika sesudah dihitung ternyata angka indeks tahun 2001 sebesar 122, berarti telah terjadi kenaikan. Sedikitnya ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menentukan tahun dasar, yaitu: 1) Tahun dasar yang dipilih sebaiknya merupakan tahun pada ketika keadaan perekonomian sedang stabil (tidak dalam keadaan inflasi atau deflasi yang tinggi). 2) Tahun dasar yang dipilih sebaiknya jangan terlalu jauh dengan tahun yang ingin dihitung angka indeksnya. Sebaiknya jarak tahun yang dihitung dengan tahun dasar tidak lebih dari 10 tahun.
- Memilih Metode Penghitungan Secara garis besar ada dua macam metode penghitungan, yaitu metode tidak tertimbang dan tertimbang. Metode tidak tertimbang tidak memakai faktor penimbang, sedangkan metode tertimbang memakai faktor penimbang. Faktor penimbang ialah faktor yang digunakan untuk membedakan pentingnya suatu barang terhadap barang- barang yang lain. Jika menentukan metode tertimbang, kita harus menentukan faktor penimbang yang tepat.